Demplot PM-AAS Bali Tembus Produktivitas 10,5 Ton GKP per Hektar Jelang HUT RI
Jembrana, 11 Agustus 2026 – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, capaian menggembirakan ditunjukkan melalui panen bersama Demplot Perekayasaan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Subak Tegal Jati, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.
Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jembrana, penerapan PM-AAS menggunakan varietas padi unggul Cakrabuana Agritan di demplot tersebut mampu menghasilkan produktivitas rata-rata 10, 5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar
Panen bersama ini dihadiri oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Jembrana, Jajaran Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida, BPS Kabupaten Jembrana, Stasiun Klimatologi Bali, Komandan Distrik Militer (Dandim) 1617/Jembrana, Kelsi dan Penyuluh CWS Provinsi Bali, Katimker dan penyuluh pertanian Kabupaten Jembrana, PT. Pupuk Indonesia, Bank Indonesia, PT. Setia Tani, serta para petani penerap PM-AAS.
Turut hadir para pekaseh dan pengurus subak se-Kecamatan Negara, pekaseh Subak Tibubeleng, serta petani calon penerap teknologi PM-AAS dari beberapa wilayah Kabupaten Jembrana.
Kepala BRMP Bali Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersinergi mendukung pelaksanaan Demplot Perekayasaan PM-AAS di Subak Tegal Jati hingga mampu mencapai hasil yang menggembirakan.
“Berdasarkan hasil ubinan yang dilaksanakan bersama BPS Kabupaten Jembrana, rata-rata produktivitas padi varietas Cakrabuana Agritan yang menerapkan metode PM-AAS mencapai 10, 5 ton per hektar GKP. Ini menjadikan Bali sementara berada di peringkat kedua produktivitas padi PM-AAS tertinggi di Indonesia setelah Gorontalo yang mencapai 12 ton per hektar”, ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut semakin memperkuat keyakinan petani terhadap penerapan teknologi pertanian modern. Bahkan, sebelum pelaksanaan panen, Demplot PM-AAS di Subak Tegal Jati telah banyak dikunjungi penyuluh pertanian lapangan (PPL), pekaseh, dan petani dari Jembrana maupun kabupaten lain di Bali. “Setelah melihat langsung Demplot PM-AAS ini, respon mereka sangat positif. Saat ini mereka bahkan sedang giat mengajukan CPCL untuk ikut menerapkan teknologi ini di lokasi masing-masing", ungkapnya.
Senada dengan Kepala BRMP Bali, I Nyoman Adijaya, S.P., M.P., selaku penanggung jawab Demplot Perekayasaan PM-AAS BRMP Bali di Kabupaten Jembrana, saat temu lapang yang dilaksanakan di Balai Subak Tegal Jati setelah panen bersama menjelaskan sejumlah keunggulan penerapan PM-AAS.
Menurut Adijaya, salah satu keunggulan PM-AAS terletak pada pengaturan kepadatan populasi tanaman. Konsepnya bukan sekadar mengejar jumlah anakan sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan tanaman yang tumbuh merupakan tanaman yang produktif. “Dengan metode PM-AAS, kita tidak mengejar banyaknya anakan yang dihasilkan, tetapi bagaimana seluruh tanaman yang tumbuh menjadi tanaman produktif. Jika dihitung secara analisis ekonomi, penerapan PM-AAS di Jembrana memang meningkatkan biaya produksi sekitar 15,2 % karena bertambahnya jumlah penggunaan benih dari sebelumnya 25 kg per hektar menjadi 70 kg per hektar serta penggunaan pupuk organik, dan anorganik yang juga ikut meningkat. Namun, dengan meningkatnya produktivitas dari rata-rata 7 ton menjadi 10,6 ton per hektar, petani masih memperoleh keuntungan yang lebih besar,” jelasnya.
Adijaya juga memaparkan sejumlah simpul kritis yang harus diperhatikan petani dalam penerapan PM-AAS, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen. Ia menegaskan bahwa keberhasilan PM-AAS sangat ditentukan oleh ketepatan dalam menerapkan teknologi budidaya. Beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan antara lain kerataan lahan, penggunaan alat tanam (tabela) yang dilengkapi pembuat alur untuk mengantisipasi hujan setelah tanam, pengaturan lubang keluarnya benih pada drum seeder, perendaman dan pemeraman benih sesuai standar, serta pengendalian hama burung melalui perlakuan benih.
Selain itu, pengendalian gulma perlu dilakukan sejak dini menggunakan herbisida pra-tumbuh, disertai pengamatan rutin terhadap serangan hama dan penyakit. Penerapan biosilika serta sistem pengairan Alternate Wetting and Drying (AWD) juga menjadi bagian penting untuk menjaga kekuatan tanaman dan mencegah tanaman rebah.
Salah seorang petani penerap PM-AAS, Putu Rauh, mengaku sangat berterima kasih kepada BRMP Bali dan seluruh pihak yang telah memberikan pendampingan dan dukungan.
“Awalnya kami kurang yakin dengan PM-AAS ini. Namun sekarang sudah terbukti produksinya meningkat dan mencapai lebih dari 10 ton per hektar. Sebelumnya, produktivitas padi di sini maksimal hanya sekitar 7 ton per hektare GKP,” ungkapnya.
Menurutnya, hasil panen tersebut menjadi bukti nyata bahwa penerapan teknologi budidaya yang tepat dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan keyakinan baru bagi petani untuk mengadopsi teknologi pertanian modern.
Keberhasilan Demplot PM-AAS di Jembrana juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk salah satunya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jembrana.
Kepala BMKG Staklim Jembrana, Aminudin Al Roniri, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa pihaknya telah memberikan dukungan sejak awal penanaman, termasuk memasang Automatic Weather Station (AWS) untuk memantau kondisi iklim mikro di lokasi Demplot dan Dem area PM-AAS Jembrana. “Dukungan kami berupa informasi iklim sejak awal agar risiko kegagalan panen akibat ketidaksiapan menghadapi perubahan iklim dapat diminimalkan. Pada awal penanaman kami sudah menyampaikan bahwa akan terjadi kondisi kekeringan ke depan. Karena itu, irigasi dengan sistem pemompaan perlu segera disiapkan untuk membantu pengairan,” jelasnya.
Aminudin menambahkan, kondisi tanaman yang terlihat saat panen menunjukkan hasil penerapan teknologi dan dukungan pengelolaan air serta informasi iklim yang baik. “Hari ini kita dapat melihat hasilnya. Bulir padi terlihat begitu bernas dan tanaman siap dipanen,” ungkapnya.
Capaian produktivitas 10, 5 ton GKP per hektar dari Demplot Perekayasaan PM-AAS Subak Tegal Jati menjadi bukti bahwa penerapan teknologi pertanian modern secara tepat, didukung kolaborasi lintas sektor, mampu mendorong peningkatan produktivitas padi. Keberhasilan tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat petani di Bali untuk mengadopsi PM-AAS, sekaligus memperluas kolaborasi antara pemerintah, petani, penyuluh, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mewujudkan pertanian Bali yang semakin produktif, efisien, dan modern.